Ragam  

Mengenal Sisi Lain Menteri PANRB, Sosok Peduli Seni Budaya Nusantara

Menteri Anas meninjau pameran seni Art Osing atau ArtOs Nusantara di Banyuwangi. (Foto: Humas Kemen PANRB)

Sinarpagibaru.com – Siapa sangka gedung tua bekas ekspedisi Djakarta Lloyd bisa disulap menjadi galeri seni yang apik? Di Kabupaten Banyuwangi, bangunan berarsitektur gaya kolonial itu dijadikan pameran seni Art Osing atau ArtOs Nusantara. Karya seni yang dipamerkan dalam gedung tua itu dianggap menjadi penghargaan atas budaya masa lalu dan masa yang akan datang.

Decak kagum terlihat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas saat mengunjungi pameran ArtOs Nusantara. “Mudah-mudahan dengan adanya seniman ini penghargaan terhadap masa lalu dan masa depan bisa dinikmati dengan karya-karyanya,” ujar Menteri Anas saat berbincang dengan para seniman, Senin (22/05).

Pameran yang digagas Langgar Art Banyuwangi ini mengusung tema bertemunya kebudayaan Osing asli Banyuwangi, dengan kebudayaan Nusantara lainnya. Pemilihan lokasi gedung pameran pun bukan tanpa arti.

Perusahaan ekspedisi Djakarta Lloyd menjadikan gedung ini sebagai gudang dan masih berdiri kokoh di pelabuhan lama Banyuwangi. Hal ini menjadi saksi bahwa Banyuwangi pernah menjadi hub penting jalur perdagangan intenasional, bahkan sejak era kedatangan Persatuan Perusahaan Hindia Timur Belanda, atau lebih dikenal dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Baca Juga :  Menteri PANRB: Membumikan Reformasi Birokrasi Tematik Perlu Dukungan Polri

Bukti sejarah itu menjadi penanda Banyuwangi telah lama bersinggungan dengan budaya barat dan Nusantara. Fakta bertemunya berbagai budaya di Banyuwangi itu dituangkan secara magis oleh para perupa ke dalam karya seninya, baik berupa lukisan maupun instalasi seni.

Menteri Anas dikenal sebagai seorang yang peduli terhadap seni budaya lokal. Saat memimpin Banyuwangi, berbagai festival digelar secara rutin sehingga seni asli Banyuwangi tetap bertahan.

Bahkan, hotel-hotel berbintang di Banyuwangi, diharuskan memiliki muatan seni lokal, baik dari sisi interior, bentuk bangunan, maupun motif-motif yang ada di hotel itu. “Karena dari arsitektur, kita bisa menitipkan ciri peradaban kita,” ungkap Anas.

Kunjungan Menteri Anas ke kampung halamannya ini dalam rangka mengikuti Rakor Kearsipan yang digelar Arsip Nasional RI atau ANRI. Di hadapan para seniman, Menteri Anas menyampaikan bahwa ANRI bertugas menjaga memori kolektif bangsa.

Baca Juga :  Kasus Tol Cijago Sesi 3, Sidang Mediasi di Tunda Tergugat Akan Ajukan Prinsipal

ANRI memiliki koleksi berupa dokumen, foto masa lalu, perkamen, atau literasi kuno mengenai Banyuwangi. Saat menjabat sebagai bupati, Menteri Anas pernah meminta para seniman untuk menciptakan lukisan dari berkas sejarah. “Saya minta para pelukis untuk itu dilukiskan. Maka banyak lukisan di pendopo adalah hasil repro dari dokumen historis yang kita dapatkan,” pungkas Anas.

Menteri Anas meninjau pameran tersebut dengan mengajak Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Kepala ANRI Imam Gunarto, Kepala LAN Adi Suryanto, serta Penasihat Ahli ANRI Bidang Arsip Kemaritiman Connie Rahakundini Bakrie. (Gtg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *