Bahlil Lahadalia Ajak Lulusan Universitas Paramadina Menjadi Pengusaha

JAKARTA, sinarpagibaru.com – Bagi lulusan yang sudah bekerja saya ucapkan selamat untuk meningkatkan kualitas diri dalam menunjang profesi saudara sekalian. Bagi yang belum bekerja saya berharap untuk tidak menjadi pengangguran intelektual. Demikian disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam Acara Wisuda Universitas Paramadina di Gedung Smesco, Jakarta (01/06/2023).

Ia menyarankan untuk membuka cakrawala berpikir yang lebih luas dan menjadi pengusaha yang mampu memberikan kontribusi nyata membuka lapangan pekerjaan dan memangkas angka pengangguran di Indonesia. “Indonesia harus mendorong investasi sektor swasta untuk menciptakan lapangan pekerjaan.” katanya.

Hadir dalam acara ini Senat Universitas Paramadina, wisudawan program studi untuk Sarjana dan Magister, LLDikti Wilayah III diwakili Prita Ekasari, ST, MMSi, dan undangan lainnya.

Dalam orasi ilmiah berjudul “Kebijakan Investasi untuk Mencapai Indonesia yang Sejahtera” Bahlil menyinggung strategi  hilirisasi produk sumber daya alam (SDA) dalam negeri sehingga dapat memberikan nilai tambah.

“Sebelumnya sudah ada empat komoditas yang bahan mentahnya dilarang untuk diekspor, yakni Nikel, Bauksit, Tembaga, dan Timah. Kini diperluas cakupannya menjadi 21 komoditas yakni Batubara, Besi Baja, Emas Perak, Aspal Buton, Minyak Bumi, Gas Bumi, Sawit, Kelapa, Karet, Biofuel, Kayu Log, Getah Pinus, Udang, Perikanan, Rajungan, Rumput Laut, dan Garam.”

Ia juga menyinggung naiknya neraca perdagangan Indonesia terhadap AS dan Tiongkok. “Neraca Perdagangan Indonesia terhadap AS dan Tiongkok semakin membaik menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke kedua negara tersebut naik pesat.”

Baca Juga :  Freni Lutruntuhluy Desak Jokowi Berikan Perlindungan Kesehatan Bagi Warga Asal Wetar yang Dirawat Ke Timor Leste

Wakil Rektor Dr. Fatchiah E. Kertamuda dalam sambutannya, menyatakan kegembiraannya, “Wisuda Sarjana dan Magister ke-38 Universitas Paramadina, meluluskan 265 wisudawan.  Terdiri dari 166 wisudawan Program Sarjana dan 99 wisudawan Program Magister.”

“Rata-rata IPK Sarjana mencapai  3,54 dan masa studi rata-rata 3 tahun 8 bulan, dengan rekor tercepat yaitu 3 tahun 5 bulan 16 Hari meraih IPK 3,88. Sedangkan rata-rata IPK program Magister adalah 3,70 dan masa studi 3 tahun 1 bulan. Rekor penyelesain studi tercepat adalah 1 Tahun 6 Bulan 11 Hari dengan IPK 4.00.”

Pratiwi Astar, M.Sc – Ketua Yayasan Wakaf Paramadina melalui sambutannya, menyatakan bahwa setiap setiap lulusan harus menyiapkan diri dan mewaspadai akan peran Artificial Intelligence yang mulai merambah dalam kehidupan sehari-hari “AI ini akan membawa perubahan besar dalam cara hidup kita, peran kita, terlebih dalam dunia kerja.”

“Bangunlah network atau jaringan baik bersama tim, teman-teman di luar dan juga almamater,tingkatkan kolaborasi dan kemampuan kinerja untuk memastikan kalian dapat bekerjasama dengan teknologi Artificial Intelligence untuk mencapai tujuan bersama,” pesannya.

Pratiwi juga mengingatkan untuk selalu memegang teguh visi Paramadina dalam praktik hidup bermasyarakat “Dalam dunia kerja dan di lingkungan dimana kita berada, betapa pentingnya menjaga nilai-nilai dasar seperti etika dan moral, norma-norma, dan aturan yang berlaku, saling menghormati, menjunjung tinggi akuntabilitas dan tanggung jawab, serta adab menahan diri dari nafsu.”

Baca Juga :  Mahasiswa Magister Paramadina Kolaborasi Bersama Petani Desa Sukawangi, Bogor dalam Sosialisasi Pemanfaatan Limbah Organik

Sementara Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc, Ph.D. dalam sambutannya berpesan kepada para lulusan, supaya selalu bersabar dan berdoa ketika menghadapi kegagalan sebagai tantangan dalam hidup.

“Dengan bersabar, kita dapat mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan usaha dan mencari jalan keluar. Berdoa juga memberikan kekuatan spiritual dan harapan bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Di sisi lain, jangan menjadi sombong saat meraih kesuksesan. Jangan lupa, bahwa kesuksesan tidak konstan, maka sikap rendah hati, menghindari perasaan sombong yang dapat merusak hubungan dan reputasi,” pungkasnya.

(Rls/Nvr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *