Ragam  

PENYELAMAT BUMI: “Kimia” bukan “Musuh”

Siti Zahrotul Fuadah, mahasiswi semester 6 jurusan kimia di Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: ist)

KAB. BEKASI, Sinarpagibaru.com – Kimia seringkali disalahpahami sebagai ilmu yang berbahaya dan mencemari lingkungan. Namun kenyataannya, kimia memiliki peran penting dalam menyelamatkan bumi. Meskipun tidak dapat menebak bagaimana akhirnya nanti, apakah bumi akan hancur atau lestari? Tetapi kimia, berperan dalam menyelesaikan setiap masalah global, baik kehidupan lingkungan maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

Bayangkan dunia tanpa kimia! Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia dan makhluk hidup lain, hidup berdampingan dengan kimia. Mustahil jika kita menghindari kimia, karena dari setiap benda, udara yang kita hirup dan air yang kita pakai untuk minum, mandi, dan mencuci merupakan kimia. Bahkan sabun yang membuat badan, baju, dan barang lain bersih itu merupakan kimia.

Kimia merupakan tongkat ajaib yang tersembunyi dibalik banyak hal disekitar kita. Ia tak hanya membantu kehidupan sehari-hari, tapi juga pahlawan penyelamat bumi. Mari jelajahi setiap keajaibannya:

1. Dokter penyelamat

Seseorang yang memiliki pengetahuan mengenai suatu ilmu merupakan ilmuwan. Ilmuwan yang mendalami ilmu kimia disebut kimiawan. Kimiawan ini bagaikan dokter bagi bumi. Mereka meracik obat untuk menyembuhkan pencemaran, membuat teknologi pengolahan air dan udara serta membersihkan racun. Karena udara yang bersih dapat membantu melindungi lingkungan dan melestarikan warisan budaya. Polutan seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida dapat membentuk hujan asam, mencemari tanah dan air, serta merusak bangunan seperti Acropolis dan Taj Mahal. Benar-benar kimia bagaikan antibiotik bagi bumi yang sakit.

2. Pahlawan energi

Energi terbarukan seperti baterai dan panel surya tak akan ada tanpa kimia. Dampak energi dari bahan bakar fosil semakin tercermin pada dampak negatifnya terhadap lingkungan. Sumber energi terbarukan terus diteliti, seperti para peneliti di West Virginia University, telah menemukan senyawa baru yang dapat menjadi sumber energi terbarukan di masa depan, dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi teknologi modern, mulai dari panel surya pembangkit listrik hingga telepon seluler. Dilansir Science Daily, Selasa, 14 April 2020, senyawa tersebut disebut fotosensitizer. Dimana fotosensitizer merangsang reaksi kimia dengan adanya cahaya, sehingga energi yang dihasilkan senyawa ini dapat digunakan untuk penerangan jalan.

Baca Juga :  Direktur PT. Haikal Cipta Abadi Perkasa, Yan Sudrajat Akan Laporkan SS ke Polisi

3. Penyihir

Plastik, kain, deterjen, dan berbagai produk sehari-hari tercipta dari sentuhan kimia. Tapi, tahukah kamu? Kimiawan terus berinovasi menciptakan bahan ramah lingkungan, bagaikan penyihir yang mengubah plastik menjadi bahan yang terurai alami. Sampah di Indonesia merupakan permasalahan yang khas karena masih banyak sampah yang tidak dikelola dengan baik, masih banyak sampah yang mencemari lingkungan sehingga dapat menyebabkan pencemaran udara, banjir, dan longsor.

Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang menyebabkan kerusakan besar terhadap lingkungan global, dimana sampah plastik yang sulit terurai dan kemungkinan dapat terurai sekitar 50 hingga 100 tahun. Mengingat banyak bahan kemasan makanan yang terbuat dari plastik, seperti kemasan nasi, makanan ringan dan botol minuman. Bukan tidak mungkin plastik bisa masuk ke dalam tubuh dan pastinya berbahaya terhadap metabolisme tubuh.

Maka pada tahun 2022, Agus Dwi Putra, Yayi Febdia Pradani dan Bella Cornella Tjiptady, menganalisis material polimer ramah lingkungan berbahan rumput laut E-Cottoni sebagai pengganti kemasan plastik. Penelitian tersebut untuk menanggulangi masalah sampah plastik, terutama di Indonesia. Mengganti kemasan plastik dengan edible film, dimana edible film ini merupakan bahan polimer yang berpotensi menjadi alternatif pengganti kemasan pangan plastik karena mudah terurai dan memiliki biodegradable yang tinggi.

4. Petani masa depan

Kimia membantu petani menghasilkan panen yang berlimpah dengan pupuk dan pestisida yang lebih efisien. Kimiawan merumuskan pupuk yang kaya akan nutrisi penting, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dengan optimal. Penting bagi petani untuk menngunakan pestisida, dimana akan membantu petani mengendalikan hama, penyakit dan mengurangi hasil panen.

Baca Juga :  Menteri AHY Hadiri Buka Puasa Bersama PT Tempo Scan Pasific

Untuk menjaga lingkungan yang lebih sehat, petani dapat mengggunakan eco-enzim. Eco-enzim ini dapat menjadi produk serbaguna bagi petani, yang berasal dari limbah organik (sampah dapur). Produksi eco-enzim menghasilkan ozon yang membantu mengurangi karbon dioksida dan logam berat di udara. Selain itu, NO3 dan CO3 juga dihasilkan, untuk membantu menjernihkan udara di atmosfer dan berperan sangat penting dalam mitigasi efek rumah kaca penyebab pemanasan global. Tak hanya itu, kimia juga dapat membantu petani untuk menjaga kelestarian tanah dan air, dimana pengolahan tanah seperti penggunaan dolomit untuk menetralkan tanah yang terlalu asam. Kimia bagaikan penjaga ketahanan pangan bukan?

Setelah membaca penjelasan diatas, sudahkah anda terbayang bagaimana kimia dapat menjadi detektif lingkungan? Dengan keajaibannya, kimia tanpa lelah memantau kesehatan dan kelestarian bumi. Maka dari itu, marilah bersahabat dengan kimia dalam upaya melindungi bumi untuk generasi sekarang dan masa depan. Tetap jaga kesehatan diri dan bumi! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *