Kejar Target Netral Karbon dengan Energi Masa Depan Hidrogen

JAKARTA, sinarpagibaru.com – Chakra Giri Energi Indonesia (CGEI) kembali menggelar rangkaian acara Webinar Series yang rutin diselenggarakan setiap bulannya, pada Selasa 9 Mei 2023 kemarin.

Acara ini telah berlangsung Webinar Series : Hydrogen yang mengangkat tema “Potensi dan Rekomendasi Teknologi Hidrogen di Indonesia Sebagai Energi Alternatif untuk Mencapai Carbon Neutral”.

CEO dan Founder Chakra Giri Energi Indonesia, Herman Huang, M.Sc, MBA. memberikan sambutan dan menyampaikan bahwa pembahasan mengenai teknologi hidrogen mulai sering dibahas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

“Pada acara Hannover Messe 2023 di Jerman, prototype teknologi hidrogen telah banyak dikembangkan” ujar beliau. Teknologi hidrogen merupakan bidang baru yang membuka kesempatan bagi perusahaan untuk mengembangkan teknologi hidrogen, baik di Indonesia maupun Asia Tenggara. “Semoga pengembangan teknologi hidrogen di Indonesia semakin cepat ke depannya”, tutup beliau.

Pembahasan mengenai hidrogen telah dimulai sejak tahun 2004 dan terus berkembang hingga sekarang. Pengembangan teknologi hidrogen terus dilakukan untuk mewujudkan salah satu satu target pemerintah Indonesia, yaitu Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Walaupun target ini lebih lambat dari beberapa negara maju seperti Jerman dan Jepang, namun target ini lebih cepat dari India yang memiliki target NZE pada tahun 2070.

Setelah acara G20 pada tahun 2022, pemerintah Indonesia meningkatkan target nasional dari 29% menjadi 31.89% dengan penurunan sebesar 917 MTon CO2e. Berbagai stakeholder, seperti masyarakat, organisasi, dan pemerintah harus bersama-sama berkomitmen untuk mencapai target tersebut.

Selain itu, teknologi pemanfaatan energi matahari, air, panas bumi, nuklir, dan hidrogen juga harus semakin dipercepat pengembangannya untuk menciptakan NZE di Indonesia.

Menurut Prof. Dr.Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng, M.Eng, Profesor Riset Bidang Teknologi Proses Elektrokimia dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terdapat lima langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencapai NZE pada tahun 2060.

Pertama, pemerintah harus memberikan komitmen dalam jangka panjang guna meyakinkan para investor. Hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan regulasi yang jelas dan lengkap.

Baca Juga :  BPN Kota Depok Dorong Pertumbuhan UMKM Melalui Bazar

Kedua, pemerintah dapat memberikan dorongan dan stimulan agar pengguna teknologi hidrogen di Indonesia semakin banyak. Namun, masih diperlukan waktu yang cukup lama untuk realisasi penggunaan hidrogen di Indonesia.

Ketiga, mengurangi risiko dari kerumitan rantai pasokan teknologi hidrogen, mulai dari produksi, penyimpanan, hingga penggunaan. Maka dari itu, regulasi harus segera ditetapkan beserta peningkatan keamanan teknologi hidrogen.

Keempat, pemerintah dapat meningkatkan investasi di bidang Research and Development teknologi hidrogen, mulai dari produksi dan penggunaannya di berbagai bidang, seperti industri dan transportasi.

Kelima, penerapan dan perbaikan standar penggunaan teknologi hidrogen di Indonesia. Kelima hal ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi hidrogen di Indonesia, kemudian memperluas jangkauan penggunaan teknologi hidrogen ke seluruh dunia untuk menciptakan komunitas penggunaan hidrogen.

“Kami ingin menyebarkan teknologi hidrogen ke seluruh dunia dan semoga komunitas penggunaan hidrogen akan segera hadir”, tutup beliau yang disampaikan dalam Webinar Series Chakra Giri Energi Indonesia.

Namun, menurut Prof. Dr.Eng. Muhammad Aziz sebagai pembicara dari Chakra Giri Energi Indonesia dan juga Associate Professor Institute of Industrial Science, The University of Tokyo, target netral karbon di Indonesia pada tahun 2060 sangat sulit untuk dicapai.

Netral karbon (carbon neutral) bukan berarti menghilangkan penggunaan carbon fuel sepenuhnya, tetapi mampu mengendalikan carbon production, capture, storage, dan utilization (CCUS).

Hal ini sangat sulit karena membutuhkan jumlah data yang sangat banyak dan penggunaan machine learning untuk mengoptimasi model yang sedang dikembangkan, termasuk juga pengembangan teknologi hidrogen.

“Hidrogen akan challenging bagi kita ke depannya.”, ujar beliau.

Selain itu, pemerintah Indonesia tidak dapat langsung mengimplementasikan teknologi hidrogen dari negara lain.

Pemerintah Indonesia harus menyesuaikan teknologi hidrogen dengan potensi dan karakteristik di Indonesia agar dapat berkembang dengan baik.

Walaupun sulit untuk diterapkan, tetapi pemerintah Indonesia tetap harus mengembangkan energi baru terbarukan untuk mencapai karbon netral pada tahun 2060, salah satunya adalah dengan energi hidrogen.

Baca Juga :  Cegah Konflik, Wamen ATR/BPN Ajak Masyarakat Pasang Patok Tanah

Peta jalan menuju dekarbonisasi diproyeksikan mulai tahun 2030, dimana nilai pasar hidrogen akan diketahui karena telah dimulainya produksi hidrogen dalam jumlah besar.

Kemudian, pada tahun 2035, telah dimulai pembangunan infrastruktur untuk mendukung penggunaan teknologi hidrogen di pembangkit energi, transportasi, dan industri.

Selain itu, teknologi pendukung juga akan semakin berkembang, seperti electrolyzer yang akan terus menurun harganya dan lebih terjangkau oleh pengguna. Pada tahun 2040, pasar domestik akan terbentuk dan harga teknologi hidrogen akan semakin murah pada tahun 2050, sehingga harganya akan kompetitif dengan energi fosil.

“Kesempatan ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk mulai mengembangkan teknologi hidrogen di Indonesia agar dapat bersaing dengan negara lain yang juga mengembangkan teknologi ini, seperti Brunei dan Australia” pungkas Prof. Muhammad Aziz.

Hidrogen merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat digunakan untuk mencapai NZE di Indonesia. Salah satu keunggulan dari jenis energi hidrogen adalah dapat dihasilkan dari berbagai sumber energi lain dan dapat diaplikasikan di berbagai media.

Namun, penggunaan teknologi hidrogen masih harus terus dilakukan, mulai dari sisi regulasi maupun keamanan penggunaannya. Kunci sukses untuk mengembangkan energi hidrogen adalah dengan pemanfaatan teknologi, serta menciptakan dan memproyeksikan skenario pengembangan hidrogen yang sesuai di Indonesia.

Hal ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi hidrogen di Indonesia, sehingga dapat membantu Indonesia mencapai target netral karbon pada tahun 2060.

(Nvr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *